oleh

ORANG BAJAU TIDAK MENGENAL CINTA?

LATAR BELAKANG

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta… Pepatah lama ini dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia. Pepatah itu biasa terdengar diucapkan oleh para penggiat pemasaran untuk memperkenalkan suatu produk kepada masyarakat luas. Pesan yang hendak disampaikan dari pepatah itu bisa jelas terbaca, dimulai dari ajakan untuk “mengenal” atau terlebih dahulu memahami produk yang dipasarkan agar timbul rasa “sayang” dan seterusnya setelah menyayangi maka diharapkan bisa berakhir dengan “cinta”.  Urutan ini memberikan pemahaman bahwa “cinta” tidak bisa diraih dengan mudah begitu saja, namun memerlukan tahapan bertingkat dan berjenjang. Singkatnya, tidak mungkin “cinta” timbul tanpa didahului oleh “pengengenalan”.

Lalu, bagaimana dengan ungkapan yang juga umum terdengar: “jatuh cinta pada pandangan pertama”?? Ya, ungkapan ini benar. Namun yang perlu difahami adalah “pandangan pertama” itu bermakna terjadi karena dilatar belakangi oleh “nafsu”, bukan cinta. Cara membuktikannya begini, silahkan bayangkan, apa kira-kira yang akan terjadi pada saat salaman misalnya, ternyata jari-jarinya jempol semua? Atau pada saat ditraktir makan tiba-tiba gigi palsunya copot? Kalau ternyata masih bertahan dengan “cinta”, maka memahami semua kekurangan itulah proses pengenalan dan dari situ pula timbulnya rasa sayang.

Sekarang giliran saya yang masih penning memikirkan, dan mencoba mengingat-ingat kembali, apa sih bahasa Bajaunya “cinta”? Doel Sumbang dalam salah satu lyrik lagunya mengatakan: “… Sebab kita sengsara bila tak punya cinta”. Mungkinkah tanpa disadari justru hal sederhana inilah yang menyebabkan sebagian masyarakat Bajau hidup di bawah garis kemiskinan karena tidak punya cinta? … “ia ne itu kapah Sama iru na para sinsara illonna, adi?”.

Pertanyaannya adalah, apa yang dilakukan oleh seorang tenaga pemasaran, atau bahkan bisa saja orang Bajau sendiri yang kebetulan bernasib baik menjadi Manajer Pemasaran (Aamiin) dan hendak memasarkan suatu produk ke kawasan pemukiman masyarakat Bajau. Bagaimana menterjemahkan pepatah lama “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” ke dalam bahasa Bajau? … Apakah menjadi: “Nggai’ takatonang bo’ nggai’ ne karimang, nggai’ karimang bo’ nggai’ ne dampa”. Bisakah begitu? Mari kita cermati.

Masyarakat Bajau pada umumnya secara harfiah memahami pengertian kata “dampa” itu apabila berdiri sendiri bermakna “suka” atau “doyan”, sedangkan makna dan pengertian kedua kata itu (suka dan doyan) jauh sekali dengan kata “cinta” dan kalau tidak pandai-pandai (jeli) memaknai kalimatnya, bisa saja terjadi salah pengertian (misunderstood). Misalnya begini: Petugas pemasaran yang datang kebetulan perempuan cantik dan seksi… Bekal pengetahuan “marketing” yang didapatkannya semasa kuliah mulai diterapkan: “Jangan khawatir pak, stock tersedia cukup banyak. Saya datang hanya sekedar contoh saja. Nanti bapak bisa pilih mau yang putih, mau yang gemuk, semuanya mulus, semua bisa kebagian”… Dan, pada saat mengucapkan kata-kata: “Nggai’ takatonang bo’ nggai’ ne karimang, nggai’ karimang bo’ nggai’ ne dampa” dijamin pemuda-pemuda termasuk duda-duda di desa Bajau itu langsung “kereh” dikira datang hendak mencari jodoh. Tapi, ternyata si cantik itu datang memasarkan domba untuk hewan kurban… Batingga ne iru? Masi ke du kaang dampa?

CINTA, PERBANDINGAN LEKSIKAL

CINTA dalam bahasa Inggris disebut “love”. Sedangkan SUKA bahasa Inggrisnya “like”. Anda yang biasa bersosmed tentu fahan beberapa symbol yang digunakan untuk menanggapi sebuah comment, dua diantaranya adalah symbol hati (heart) yang bermakna cinta (love) dan symbol jempol ke atas (thumb) yang bermakna suka (like). Dalam percakapan sehari-hari biasa dijumpai bahwa kata “Cinta” tidak sama dengan kata “Suka”. Mencintai seseorang dengan menyukai seseorang pengertianya berbeda. Baiklah, mari kita bongkar perbandingan makna dan pengertian kata CINTA dan SUKA dalam Bahasa Indonesia dan perbandingannya dengan beberapa bahasa lain.

Kamus Umum Bahasa Indonesia (W.J.S. Poerwadarminta, 1985) menulis pengertian Cinta dan Suka memiliki beberapa makna, berikut contoh-contoh kalimatnya sebagaimana uraian berikut ini:

Cinta: (selalu teringat dan terpikir di hati, lalu berarti:)

  1. Istilah sastra lama (rasa) susah hati (khawatir dsb); misalnya tiada terperikan lagi cintanya ditinggalkan ayanhnya itu;
  2. (rasa) rindu; (rasa) sangat ingin (berharap-harap); misalnya terasa benar cintanya akan kampung halamannya;
  3. (rasa) sangat suka (kepada); (rasa) sangat sayang (kepada); misalnya cinta kepada nusa dan bangsa; cinta kepada sesama manusia; tiada ibu yang tak cinta kepada anaknya;
  4. (cinta birahi), (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya (antara laki-laki dan perempuan); misalnya ia mau diperistrikannya, bukan karena cinta, melainkan karena harta.

Suka:

  1. Perasaan senang (girang) di hati; misalnya sahabat dalam suka dan duka;
  2. (suka hati, suka cita), girang hati, senang hati; misalnya sekalian bantuan dan sokongan disambut dengan suka hati;
  3. Mau; sudi; rela; misalnya Ia tidak suka membayar sekian; datanglah kalau tuan suka; kalau sudah suka sama suka, biarlah kawin saja.
  4. (akan), gemar (akan); misalnya maknya suka benar makan sirih; memang banyak orang suka menonton bioskop; ada yang suka (akan) daging dan ada juga yang suka (akan) ikan laut;
  5. Setuju (dengan); menaruh simpati (kepada); misalnya itupun kalau tuan suka; tiada seorang pun suka kepadanya;
  6. (kepada), menaruh kasih (kepada); kasih sayang (kepada); cinta (kepada); misalnya rasanya jarang ibu yang tak suka kepada anaknya; oleh terlampau amat sukanya kepada Wartini, hingga seperti orang gila tingkah lakunya;
  7. Bahasa percakapan mudah sekali…; kerap kali…; misalnya memang dia suka lupa; potlot semacam ini suka patah; ia suka datang di rumah Mirdan.

Pengertian dan makna kata “cinta” sebagaimana diuraikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia di atas, memberikan pemahaman bahwa kata “cinta” memiliki pengertian yang sama atau boleh dikatakan “beda-beda tipis lah” dengan kata “suka”. Bahkan kalau kita cermati, kata “suka” justru memiliki pengertian yang lebih luas dari kata “cinta” karena di dalam kata “suka” mengandung (bisa juga bermakna) “cinta” dan tidak sebaliknya. Perhatikan butir 3. dan butir 6. penjelasan pengertian kata “suka” ternyata ada kandungan yang juga bermakna “cinta”.

Beberapa bahasa daerah di Indonesia yang saya fahami ada juga yang membedakan kata CINTA dan SUKA. Tentulah saya nggak faham semua bahasa daerah itu karena jumlah bahasa daerah di Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 terdapat sejumlah 718 bahasa. Berikut ini adalah beberapa bahasa daerah yang membedakan kata “cinta” dan “suka” yaitu sbb.:

–   Bahasa Batak, mereka bahkan memiliki 2 kata yang pengertiannya sama dengan CINTA: SINTA dan HOLONG. Jadi kalau ada orang Batak bilang: “Ahu sinta tu ho” atau “Ahu holong di ho” sebaiknya anda nggak usah jauh-jauh lagi, karena itu artinya “Aku cinta padamu”. Kalau SUKA bahasa Batak-nya LOMO.

–   Bahasa Betawi, juga memiliki 2 kata yang pengertiannya sama dengan CINTA, yaitu CINTE dan DEMEN. Kalau SUKA bahasa Betawi-nya DOYAN.

–   Bahasa Sunda: Cinta = bogoh, Suka = resseup.

–   Bahasa Jawa: Cinta = tresno, Suka = senneng.

Paparan di atas memberikan gambaran bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia bahkan ada yang sekaligus memiliki 2 kata yang bermakna “cinta”. Beberapa bahasa daerah lainnya nampak tidak ada masalah untuk mengungkapkan rasa cinta dan membedakannya dengan kata suka karena kedua perbendaharaan kata itu ada didalam kosa kata mereka, sehingga dalam percakapan sehari-hari bisa dibedakan antara “cinta kepada pujaan hati” dan “suka kepada seseorang atau benda-benda tertentu”.

Ungkapan rasa “cinta” dalam bahasa Bajau yang dituturkan oleh masyarakat Bajau di Indonesia, umumnya menggunakan kata “dampa” yang juga bermakna “suka”; (Dampa = cinta, suka). Tidak umum bahwa ada beberapa kawasan pemukiman masyarakat Bajau di Indonesia, yang menggunakan kata “cinna” sebagai ungkapan rasa cinta, namun setelah diteliti kata “cinna” tersebut adalah serapan dari Bahasa Bugis. Contoh penggunaan kata “dampa” dalam percakapan sehari-hari:

  1. Dampa sikkali aku ma si Arung pamabilli tetehe’ = Saya sangat mencintai si Arung penjual Tetehe’ (Landak laut. Inggris: sea urchin, lihat gambar).
  2. Dampa sikkali aku tetehe’ ma dipabilliang si Arung = Saya sangat menyukai tetehe’ yang dijual si Arung.
  3. Dampa sikkali aku ma iru (baka noro’ na) = Saya sangat menyukai itu (sambil menunjuk sesuatu).
  4. Lamo peger sikadampa’ang ne bo’ tapa dipanikka ne = Kalau sudah saling mencintai ya langsung dinikahkan saja.
  5. Si Arung iru dadampa dirina mugai pakanna’ang, lamo lupos kimburuanna ne = Si Arung itu suka-suka dirinya membuat cerita, kalau sudah selesai dicemburuinya (cemburu pada cerita yang dibuatnya sendiri).

Contoh-contoh kalimat di atas menggunakan kata dasar “dampa” dan disertakan pula contoh kalimat yang menggunakan imbuhan (afiks) sehingga memberikan perubahan arti pada kata dasar.

Kalimat No. 1 dan No. 2 ada unsur kata “dampa” pada setiap kalimat dan bisa dicermati adanya perbedaan makna meskipun kedua kalimat itu menggunakan kata “dampa”. Pada Kalimat No. 1 kata “dampa” bermakna “cinta” sedangkan pada kalimat No. 2 kata “dampa” bermakna “suka”. Contoh-contoh kalimat ini memberikan pemahaman bahwa kata “dampa” baru bisa bermakna sebagai “cinta” atau “suka” tergantung dari kalimat yang menyertainya. Apabila kata “dampa” berdiri sendiri atau tidak ada kalimat penjelasan yang menyertainya, maka kedua pengertian makna (cinta dan suka) tetap berlaku. Suatu kata yang mengandung dua atau lebih pengertian yang berbeda, merujuk pada teori Linguistik termasuk kelompok kata ambigu (ambiguous leksikal).

Kalimat No. 3 dicontohkan bahwa kata “dampa” masih belum memiliki pengertian yang jelas (ambigu). Apakah yang ditunjuknya? Tetehe’ kah? Atau Pedagang Tetehe’? Dalam hal belum ada kejelasan maka kata “dampa” masih berlaku keduanya (cinta dan suka) dan tidak masalah apabila hendak memilih salah satu makna tersebut.

Kalimat No. 4 dan No. 5 adalah contoh kata “dampa” yang telah mendapatkan imbuhan sehingga sedikit bergeser namun tidak menyimpang jauh dari pengertian kata dasarnya.

CINTA DALAM BAHASA BAJAU DI NEGARA LAIN

Bagaimana pula mengungkapkan rasa cinta dalam Bahasa Bajau yang penuturnya tersebar di luar wilayah kedaulatan Indonesia, yaitu masyarakat Bajau di Malaysia dan Philippine? … Adakah kata cinta dalam Bahasa Bajau mereka?… Kalau nggak ada, apakah itu bermakna Orang Bajau tidak mengenal cinta?… Serrem banget.

Saat ini terdapat 29 rumpun asal dialek (slanga) Bahasa Bajau yang penuturnya tersebar di 3 negara: Malaysia, Philippine dan Indonesia, sebagaimana bisa diperiksa dalam buku Glosari Bahasa Bajau/Sama – Bahasa Melayu (Mohamad Said Hinayat, 2003). Umumnya, tidak ada dijumpai kosa kata “cinta” dalam bahasa Bajau, namun itu bukan berarti Orang Bajau tidak punya rasa cinta. Ada kok, cuma cara mengungkapkan saja lazimnya sama dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang tidak mengenal kosa kata cinta. Orang Bajau menyatakan rasa cinta kepada pujaan hatinya menggunakan kata “suka” dan itu secara etimologi sah-sah saja. Silahkan periksa kembali pengertian kata “suka” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia sebagaimana uraian di atas.

Masyarakat Bajau di Pantai Timur Sabah, Malaysia dan di Philippine memiliki kata yang lazim digunakan untuk mengungkapkan rasa cinta: “bilahi”.  Kira-kira sama dengan pengertian kata “dampa” yang digunakan oleh masyarakat Bajau di Indonesia, kata dimaksud juga tergolong ambigu leksikal karena bisa bermakna “cinta” dan bisa juga “suka” plus bisa pula bermakna “mau”, lagi-lagi tata bahasa yang berperan menentukan pemaknaan kata “bilahi” tergantung pada kalimat yang menyertainya.

Contoh kalimatnya begini:

  1. Bilahi aku amangan daing buntal nisagol… Tata bahasa pada kalimat ini bisa diubah namun tidak mengubah makna (arti) menjadi… Bilahi aku amangan sinaggol daing buntal…Artinya kurang lebih: “Saya suka makan ikan buntal dimasak sagol”. Sagol adalah jenis masakan khas Bajau, berkuah dengan cara ikan disuir-suir.
  2. Bilahi aku ma ka’a… Nah, kalau ada Orang Bajau dari Pantai Timur Sabah, Malaysia, atau dari Philippine yang ngomong seperti ini, apalagi sambil senyam-senyum ngedipin mata,  sebaiknya anda nggak usah kemana-mana lagi karena itu artinya “Aku cinta padamu”.
  3. Paituna kam bang bilahi angenda’ lahat kami… Silahkan kalian datang kemari apabila mau melihat kampung kami.

Tiga contoh kalimat di atas masing-masing menggunakan unsur kata “bilahi” namun pada setiap kata dimaksud memiliki arti kata yang berbeda-beda, tergantung kalimat yang menyertainya.  Pada kalimat No. 1 kata “bilahi” bermakna suka, No. 2 bermakna cinta dan No. 3 bermakna mau.

Dari jumlah 29 rumpun asal dialek Bahasa Bajau, satu-satunya masyarakat Bajau yang memiliki kosa kata “cinta” adalah masyarakat Bajau Pantai Barat, Sabah, Malaysia. Negeri berpenduduk mayoritas Bajau yang menggantungkan kehidupan masyarakatnya dari hasil ladang, pertanian, dan perkebunan. Masyarakat Bajau Pantai Barat Sabah ini juga dikenal luas dengan kemahiran mereka menunggang kuda sehingga biasa dijuluki sebagai “Cowboy of the Bajau”.

Tercantum sebagaimana dapat diperiksa dalam Kamus Asas Bajau Sama (Persatuan Bahasa dan Budaya Bajau Sama Sabah, 2016), bisa ditemui kosa kata “kasi” yang bermakna “cinta”, dan “ingin” yang bermakna “suka atau mau”.

Contoh lagi nah:

  1. Ingin bana aku ngenda’ perangai dendo Sama ei… Saya suka sekali melihat perangai wanita Bajau itu.
  2. Kasi bana aku ko’ kau… Nah, kalau ada orang Bajau dari Pantai Barat Sabah yang bilang seperti ini, tinggal jawab saja “Aku pan kasi bana engko’ kau” artinya “Aku juga cinta padamu”. Selanjutnya serahkan kepada orang tua masing-masing untuk mengatur acara lamaran atau mereka menyebutnya “tilau-tilau idaan”. Beres sudah.

UNGKAPAN CINTA LELUHUR BAJAU

Mengharapkan, barangkali ada kata lain dalam bahasa Indonesia yang pengertiannya sama dengan “cinta” sehingga bisa lebih mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Bajau, maka perlu dicari pengertian komprehensif kata ini dalam berbagai aspek tinjauan ilmiah. Saya sangat berharap menemukannya di dalam Ensiklopedi Indonesia, namun harapan saya kandas. Tidak ada satupun kata “cinta” dimuat dalam Ensiklopedi Indonesia beserta Suplemen 1986 maupun Suplemen 1990 (Hassan Shadily, dkk., 1989).

Mudah dan sederhana, ternyata kalau hanya ingin mencari makna kata “cinta” lengkap beserta definisi, terminologi, tinjauan etimologi, hingga ke jenis-jenis cinta itu apa saja, bisa didapatkan secara online melalui Wikipedia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, bisa diakses pada situs: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Cinta  Saya kutip uraian secara garis besar saja nah, dijelaskan bahwa Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dan apabila maknanya digali lebih dalam lagi, definisi Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan senantiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu.

Pas. Definisi cinta menurut Wikipedia tersebut cocok sudah dengan kondisi yang saat ini berlaku di kalangan sebagian besar masyarakat Bajau. Inilah yang dapat dijadikan rujukan mengapa leluhur masyarakat Bajau di Indonesia hanya mewariskan satu kata “dampa” yang bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa cinta kepada manusia, ketertarikan pribadi pada benda-benda lainnya, bahkan sependapat dengan para ahli yang menulis artikel dalam Wikipedia tersebut, bahwa ungkapan rasa “cinta” orang Bajau yang hidup di abad ini, sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh leluhur Bajau yang hidup sebelum abad ke 21.

Dari definisi kata Cinta yang ditulis Wikipedia tersebut di atas, selanjutnya bisa dibuat bentuk konkret suatu kalimat yang mengandung unsur kata cinta, guna lebih memahami bahwa ungkapan cinta leluhur dahulu berbeda dengan kita yang hidup pada masa kini. Para sesepuh masyarakat Bajau di kampung yang kira-kira kelahiran tahun 1950-an adalah saksi hidup yang masih bisa ditanya bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa cinta semasa masih remaja… Mamarigga’ ataiku, ngingijja’ issaku ngarummong, nggai ne kole’ku babaong lagi… Sehingga apabila kita mendengar kalimat rayuan gombal misalnya: “Aku rela berkorban melakukan apa saja demi cintaku padamu”… Tentulah kita faham kalimat semacam ini tidak mungkin diucapkan oleh leluhur Bajau pada era sebelum abad ke 21. Ini sekedar contoh nah, nggak usah dibahas.

Semoga bermanfaat.

WASSALAM

Zulkifli Azir
Author: Zulkifli Azir

Tradisi dan Budaya masyarakat Bajau Indonesia dimulai dari perkara sederhana untuk ukuran masyarakat modern. Namun di dalam kesederhanaan itulah Leluhur Bajau menyimpan warisan Ilmu Pengetahuan yang tak terukur luasnya... "Elmu Pangatonang Sama dalanga langi' dalalang tarusang".

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *