oleh

Ningkolo’ Nginta’

NINGKOLO’ NGINTA’ … Semasa hidupnya Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan para sahabat untuk makan menggunakan tiga jari tangan kanan. Imam Al-Ghazali menjelaskan, makan dengan tiga jari tangan kanan dapat menghindarkan seseorang dari sifat lupa dan dapat mengukur porsi yang cocok untuk seseorang. Belakangan barulah terungkap hikmah makan menggunakan tangan berdasarkan hasil penelitian ilmu kesehatan, terbukti makan dengan tangan lebih sehat dibandingkan menggunakan sendok karena di dalam tangan terdapat enzim RNASE yang dapat menekan aktivitas bakteri patogen di dalam tubuh.Dalam sebuah hadits diriwayatkan, dari Anas bin Malik RA mengatakan: Rasulullah SAW pernah dihidangkan dengan “tamar”. Aku melihat Baginda makan sambil duduk IQ’A’ (duduk di lantai dengan betis ditegakkan).

Kalau kita perhatikan bagaimana tradisi makan orang-orang Arab, meskipun tersedia meja makan mereka terkesan akrab saat melakukan makan bersama kerabat dan keluarga di lantai beralaskan karpet sambil mengangkat (menegakkan) betis. Itulah amalan sunnah mengikuti ajaran Rasulullah SAW.Mari kita lihat bagaimana tradisi orang Bajau saat “ningkolo’ nginta’ ” (duduk makan) bersama keluarga.Biasa terjadi di setiap pemukiman masyarakat Bajau di Indonesia yang masih tinggal di pemukiman rumah sederhana di atas air, setiap rumah pada bagian depan dilengkapi teras yang disebut “galampah” dan tentu saja ada pintu masuk disebut “bolawah” namun biasanya pintu masuk itu tidak pernah terkunci sehingga semua anggota keluarga termasuk kerabat dan keluarga dekat bisa keluar masuk kapan saja…

Kalau pemilik rumah ditanya “Nggak takut maling apa?” … Sambil nyengir menjelaskan “Tentu saja tidak, bahkan maling yang takut masuk kampung kami”… Hahaha… 😄😁😅Sangat jarang sekali ditemui ada “meja makan” di rumah-rumah pemukiman masyarakat Bajau. Tradisi makan bersama keluarga dilakukan di lantai (palampar) beralaskan tikar (milla’ tepo). Menghidangkan makanan (matala’) semua anggota keluarga duduk bersila (ningkolo’ seba). Pada saat makan dimulai, posisi duduk diubah dengan menegakkan betis kanan kemudian menikmati makanan dengan menggunakan tangan kanan tanpa sendok. Sendok hanya disediakan pada mangkok sayur mayur atau lauk pauk yang berkuah. Begitulah tradisi makan masyarakat Bajau yang apabila kita bandingkan dengan Hadits di atas serta tradisi makan orang Arab, sama sekali tidak ada bedanya. Tanpa disadari masyarakat Bajau mengikuti sunnah yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan diikuti oleh para sahabat hingga hari ini.

Di lingkungan pemukiman masyarakat modern, keberadaan meja makan sebagai pelengkap perabot rumah tangga selalu tersedia, bahkan terkesan wajib ada, namun tradisi makan orang Bajau pun biasa menyesuaikan. Saat masih kecil dahulu kawan-kawan sepermainan sering menggoda dengan teka-teki konyol: “Kalau ada 5 orang Bajau makan di meja makan, berapa jumlah kaki di bawah meja?” … Jawabannya bukan 10, tapi ada 5 kaki… Lho, kok bisa? Kan ada 5 orang, moso sih kakinya masing-masing cuma ada satu? Buntung semua apa? … Ok. silahkan buktikan sendiri… 🙂😍🌷🌹Gambar di bawah ini adalah Gadis Bajau (dinda Sama) dari Philippine. Namanya (mungkin nama samaran) si Sahaya.

Nasiblah yang membawanya ke kota Metro Manila jauh dari kampung halamannya. Coba perhatikan bagaimana posisi duduk si Sahaya saat makan di meja makan. Itulah jawaban teka-teki konyol yang pernah menjadi guyonan kami semasa kecil dahulu. Dan entah siapa yang mengajarkan, tradisi makan seperti ini ternyata menurun di keluarga kami. Cucu saya, Shila (4 tahun) dan Bren (1 tahun) selalu mengangkat sebelah kakinya pada saat makan.Battiru ne Sama ale’na ningkolo’ nginta’. Missa’ aha’ maguruang kita lamo ningkolo’ nginta’ battitu hukkumna “sunnah” apa’ iru ne ma balle dipaguruang ale’ Nabitta Rasulullah Muhammad SAW. Ningkolo’ seba, dipadutai nai’ dakau’, nginta’ nggai’ tao make sudu’. Lamo nia’ boe’ gangah atawa boe’ dayah ma pinggang bo tapa diiyyu’ne. Sitinaja kapah Sama iru na gagga memong nggai’ tao tarua’ piddi’. Aamiin.Wassalam… 😍🌷🌹

Zulkifli Azir
Author: Zulkifli Azir

Tradisi dan Budaya masyarakat Bajau Indonesia dimulai dari perkara sederhana untuk ukuran masyarakat modern. Namun di dalam kesederhanaan itulah Leluhur Bajau menyimpan warisan Ilmu Pengetahuan yang tak terukur luasnya... "Elmu Pangatonang Sama dalanga langi' dalalang tarusang".

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.